BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Arti harfiah dari portofolio adalah sekumpulan surat-surat. Teori ini disebut sebagai teori portofolio yang mempelajari bagaimana investasi pada surat-surat berharga. Pada umumnya investor pada surat-surat berharga ( saham, obligasi dan sebagainya) memilih untuk memiliki berbagai jenis surat berharga sehingga mereka dikatakan membentuk portofolio. Teori portofolio ini didasarkan pada kenyataan bahwa umumnya para investor dalam surat-surat berharga ( yang disebut juga sebagai financial asset ), tidak menginvestasikan seluruh dana mereka pada satu jenis saham, tetapi membagi-bagikannya ke dalam berbagai jenis saham atau dengan kata lain mereka melakukan diversifikasi untuk mengurangi resiko yang ditanggung. Kalau suatu saham nilainya jatuh, sedangkan saham lain naik, maka kerugian dan keuntungan ini akan saling mengkompensir. Harga pasar suatu surat berharga mencerminkan penaksiran consensus pasar akan nilai surat berharga. Suatu pasar keuangan yang efisien terjadi apabila harga-harga surat berharga mencerminkan semua informasi yang tersedia di masyarakat, tentang ekonomi tentang pasar-pasar keuangan dan mengenai perusahaan tertentu tersebut. Harga pasar dari setiap surat berharga menyesuaikan diri dengan sangat cepat atas setiap informasi baru yang masuk ke pasar. Sebagai hasilnya harga surat-surat berharga akan berfluktuasi secara random terhadap nilai “intrinsic” mereka. Perubahan-perubahan harga karena adanya informasi baru, dikatakan akan mengikuti pola “random walk”.
Teori portofolio dan teori pasar modal sebelumnya hanya
merupakan konsumsi kaum akademik, sedangkan manajer keuangan tidak memiliki
minat atau tidak menyadari keberadaan teori tersebut. Namun situasi ini telah
berubah seiring dengan bertambahnya sarjana yang memasuki profesi pengelolaan
uang. Saat ini, manajer keuangan bersifat terbuka terhadap teori ini dan
seringkali turut memberikan kontribusi pemikiran bagi teori tersebut.
1.2 Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam makalah ini
adalah Apa yang dimaksud dengan portofolio investasi ?
1.3 Tujuan
1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah
untuk mengetahui pengertian dari portofolio investasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Portofolio
Portofolio
merupakan istilah asli yang digunakan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan
secara bebas ke bahasa Indonesia, menjadi portofolio yang berarti adanya
minimum dua barang atau lebih yang dipegang oleh investor atau dikelolanya,
antara lain, portofolio investasi, portofolio merek, portofolio mengajar, dan
sebagainya.
Arti harfiah dari portofolio adalah sekumpulan investasi (Suad Husnan,2005;49). Sedangkan secara umum, portofolio adalah suatu kombinasi dari investasi sejumlah asset dengan tingkat keuntungan dan risiko yang berbeda-beda dalam jangka waktu tertentu.
Pembentukan portofolio merupakan salah satu alternatif yang umum dipilih dalam rangka menerapkan gagasan utility maximization. Portofolio oleh Sundjaja dan Barlian (2002;58) didefinisikan sebagai kombinasi aktiva. Sedangkan menurut Sentanoe Kertonegoro (1995;215), portofolio adalah suatu kumpulan investasi yang digabungkan untuk memenuhi tujuan investasi. Hampir serupa dengan pendapat Agus Sartono (2001;143), bahwa portofolio adalah sekumpulan investasi baik berupa asset riil (real assets) maupun asset keuangan (financial assets). Kesempatan investasi pada financial assets dapat berupa saham biasa, saham preferen, obligasi perusahaan, dan surat berharga yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sedangkan kesempatan investasi pada real assets dapat berupa gedung, tanah, kendaraan, dan aktiva berwujud lainnya.
Menurut John (2005:53), Kerja besar dikerahkan untuk pembentukan portofolio. Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian. Teori portofolio mengasumsikan bahwa investor yang rasional menolak untuk meningkatkan risiko tanpa disertai peningkatan pengembalian yang diharapkan. Hubungan antara risiko yang diterima dan pengembalian yang diharapkan merupakan dasar bagi keputusan pinjaman dan investasi modern. Makin besar risiko atas investasi atau pinjaman, makin besar tingkat pengembalian yang diinginkan untuk menutup risiko tersebut.
Arti harfiah dari portofolio adalah sekumpulan investasi (Suad Husnan,2005;49). Sedangkan secara umum, portofolio adalah suatu kombinasi dari investasi sejumlah asset dengan tingkat keuntungan dan risiko yang berbeda-beda dalam jangka waktu tertentu.
Pembentukan portofolio merupakan salah satu alternatif yang umum dipilih dalam rangka menerapkan gagasan utility maximization. Portofolio oleh Sundjaja dan Barlian (2002;58) didefinisikan sebagai kombinasi aktiva. Sedangkan menurut Sentanoe Kertonegoro (1995;215), portofolio adalah suatu kumpulan investasi yang digabungkan untuk memenuhi tujuan investasi. Hampir serupa dengan pendapat Agus Sartono (2001;143), bahwa portofolio adalah sekumpulan investasi baik berupa asset riil (real assets) maupun asset keuangan (financial assets). Kesempatan investasi pada financial assets dapat berupa saham biasa, saham preferen, obligasi perusahaan, dan surat berharga yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sedangkan kesempatan investasi pada real assets dapat berupa gedung, tanah, kendaraan, dan aktiva berwujud lainnya.
Menurut John (2005:53), Kerja besar dikerahkan untuk pembentukan portofolio. Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian. Teori portofolio mengasumsikan bahwa investor yang rasional menolak untuk meningkatkan risiko tanpa disertai peningkatan pengembalian yang diharapkan. Hubungan antara risiko yang diterima dan pengembalian yang diharapkan merupakan dasar bagi keputusan pinjaman dan investasi modern. Makin besar risiko atas investasi atau pinjaman, makin besar tingkat pengembalian yang diinginkan untuk menutup risiko tersebut.
Dari
beberapa pengertian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa portofolio
merupakan sekumpulan investasi dengan tingkat keuntungan dan risiko yang
berbeda-beda yang digabungkan untuk memenuhi tujuan investasi serta mengurangi
risiko. Dalam portofolio, seorang investor memiliki kesempatan untuk melakukan
diversifikasi (pemilihan banyak sekuritas) pada berbagai kesempatan investasi.
Diversifikasi itu sendiri dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang ditanggung.
Pembentukan portofolio menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang
akan dipilih, dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing
sekuritas tersebut. Selain itu diharapkan akan terbentuk suatu portofolio yang
optimum, yaitu portofolio yang dipilih investor dari sekian banyak yang ada
pada portofolio efisien. Tentunya portofolio yang dipilih investor adalah
potofolio yang sesuai dengan preferensi investor bersangkutan dengan return
maupun terhadap risiko yang dapat ditanggungnya.
2.2. Tujuan melakukan portofolio
Tujuan
melakukan portofolio adalah untuk mengurangi risiko bagi pihak yang memegang
portofolio. Pengurangan risiko itu dilakukan dengan diversifikasi risiko. Dalam
membangun sebuah portofolio yang dimiliki investor maka karakteristik investor
harus dipahami. Karakteristik investor sangat bervariasi dan berbeda. Dengan
memahami karakteristik investor maka manajer investasi dapat memberikan nasihat
portofolio yang akan dibangun untuk kepentingan investor. Portofolio yang akan
dibangun tidak akan terlepas dari situasi politik, ekonomi, sosial yang ada di
suatu negara. Perkembangan ekonomi lebih sangat berpengaruh terutama
perkembangan tingkat bunga.
2.3 Tahapan proses portofolio
Proses
portofolio mempunyai empat tahap yaitu tahap tujuan investasi, tahap ekspektasi
pasar, tahap membangun portofolio, dan tahap evaluasi kinerja.
·
Tahap
penentuan tujuan investasi merupakan tahapan awal yang harus dikerjakan oleh
semua pihak bila ingin melakukan pengelolaan portofolio investasi. Pada tahap
ini, investor harus memahami besarnya risiko yang ditolerir oleh investor atas
portofolio investasi yang dimilikinya.
Biasanya, risiko yang ditolerir
berkaitan erat dengan tingkat pengembalian yang diinginkan. Jika terjadi risiko
yang tinggi maka tingkat pengembalian pun akan tinggi pula. Oleh karena itu,
perlu dipahami karakteristik investor yang bersangkutan. Bila investor
menginginkan risiko rendah dan tingkat pengembalian yang rendah umumnya
investor adalah penghindar risiko (risk averse). Investor yang menginginkan
tingkat pengembalian tinggi dan risiko yang ditolerir juga tinggi dimiliki
investor yang berkarakteristik risiko tinggi dikenal juga dengan istilah
spekulan.
Investasi bertujuan untuk memberikan
kesempatan agar dana yang diinvestasikan berkembang ketika digunakan sebagai
dana investasi pada waktu yang akan datang. Jika demikian halnya, untuk apa
dana yang dimiliki sekarang? Bagaimana kalau nilai dana yang dipegang itu
mengalami penurunan? Hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh investor.
Variabel lain yang juga harus
diperhatikan investor dalam tahap ini yaitu periode investasi (time horizon).
Periode investasi yang ditetapkan investor menjadi patokan untuk menentukan
instrumen investasi yang akan diinvestasikan. Bila investor mempunyai periode
investasi selama 5 tahun maka investor bisa melakukan investasi ke instrumen
investasi yang mempunyai periode 5 tahun seperti obligasi 5 tahun dan saham.
·
Tahap
kedua yang dilakukan oleh investor adalah mengumpulkan informasi mengenai
seluruh instrumen investasi yang ada, dan bagaimana keinginan berbagai pihak
terhadap seluruh pasar investasi. Informasi yang dibutuhkan yaitu ekspektasi
pasar atas instrumen investasi. Bila ekspektasi pasar tersebut terlalu rendah
atau terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan tujuan investor maka investor harus
merevisi ulang tujuanya agar sesuai dengan keadaan pasar. Bila ekspektasi pasar
tidak sesuai maka investor akan menemukan siklus investasi yang tidak sesuai.
·
Tahap
ketiga, merupakan tahap implementasi keahlian manajer investasi atas keinginan
investor dan situasi pasar yang ada. Pada tahapan ini, manajer investasi
membeli dan menjual instrumen investasi yang sesuai dengan keinginan investor.
Ketika manajer investasi melakukan riset mengenai keadaan pasar maka manajer
investasi sudah tahu aset finansial yang menjadi portofolio manajer investasi.
·
Tahap
keempat merupakan tahap akhir dari proses portofolio yaitu melakukan
perhitungan atas portofolio yang dikelolanya. Selanjutnya, hasil pengelolaan
portofolio dalam bentuk tingkat pengembalian (return) dibandingkan dengan
tingkat pengembalian patokan (benchmark). Kepuasan manajer investasi akan
terjadi bila tingkat pengembalian portofolio lebih tinggi dari tingkat
pengembalian patokan. Ini juga menunjukkan keahlian manajer investasi terlihat
baik dari segi alokasi aset, pemilihan instrumen, dan kemampuan market timing. Keempat
proses tahapan portofolio tersebut di atas saling berkaitan, karena hasil yang
dicapai merupakan output dari tahapan sebelumnya.
2.4.Portofolio yang Efisien dan Optimal
Dalam pembentukan portofolio, investor berusaha
memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko
tertentu yang dapat diterima. Portofolio yang dapat mencapai tujuan di atas
disebut dengan portofolio yang efisien. Konsep pengembalian yang diharapkan dan
risiko akan dijelaskan secara lebih khusus pada saat memasuki pembahasan
tentang perkembangan teori portofolio.
Untuk membentuk portofolio yang efisien, perlu dibuat beberapa asumsi mengenai perilaku investor dalam membuat keputusan investasi. Asumsi yang wajar adalah investor cenderung menghindari risiko (risk averse). Investor penghindar risiko adalah investor yang jika dihadapkan pada dua investasi dengan pengembalian diharapkan yang sama dan risiko yang berbeda, maka ia akan memilih investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah. Jika investor memiliki beberapa pilihan portofolio yang efisien, maka portofolio yang paling optimal yang akan dipilihnya.
Untuk membentuk portofolio yang efisien, perlu dibuat beberapa asumsi mengenai perilaku investor dalam membuat keputusan investasi. Asumsi yang wajar adalah investor cenderung menghindari risiko (risk averse). Investor penghindar risiko adalah investor yang jika dihadapkan pada dua investasi dengan pengembalian diharapkan yang sama dan risiko yang berbeda, maka ia akan memilih investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah. Jika investor memiliki beberapa pilihan portofolio yang efisien, maka portofolio yang paling optimal yang akan dipilihnya.
2.5.Aktiva Berisiko Versus Aktiva Bebas Risiko
·
Aktiva berisiko,
merupakan aktiva dimana pengembalian yang akan diterima di masa depan bersifat
tidak pasti. Sebagai contoh, seorang investor membeli saham GM hari ini dan
bermaksud untuk memegang saham tersebut hingga 1 tahun. Pada saat dilakukan
pembelian saham, investor tidak mengetahui besar pengembalian yang akan
diterimanya. Pengembalian yang diterima akan tergantung dari harga saham GM
satu tahun mendatang dan pendapatan yang diperoleh investor selama 1 tahun.
Maka, dapat disimpulkan saham merupakan aktiva berisiko. Bahkan sekuritas yang
diterbitkan oleh pemerintah (obligasi) merupakan aktiva berisiko. Contohnya,
obligasi yang jatuh tempo 30 tahun, investor tidak mengetahui berapa besar pengembalian
yang diterimanya jika obligasi ini hanya disimpan selama 1 tahun. Hal ini
terjadi karena perubahan suku bunga akan mempengaruhi pengembalian investasi
pada obligasi tersebut selama satu tahun.
·
Aktiva bebas risiko,
aktiva yang pengembalian masa depannya dapat diketahui dengan pasti. Aktiva
bebas risiko umumnya merupakan kewajiban jangka pendek dari pemerintah. Sebagai
contoh, jika investor membeli sekuritas pemerintah dengan jangka jatuh tempo 1
tahun dan berniat untuk menyimpan sekuritas tersebut hingga saat jatuh
temponya, maka besar pengembalian satu tahun mendatang akan diketahui dengan
pasti.
2.6.Mengukur
Pengembalian Diharapkan dari Suatu Portofolio
Investor seringkali
dihadapkan pada pilihan antara aktiva berisiko. Di sini akan dilihat cara
pengukuran pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dan dari portofolio
aktiva berisiko.Pengembalian actual dari suatu portofolio aktiva sepanjang
periode tertentu secara langsung dapat diperhitungkan sebagai berikut:

dimana:
dimana:
Rp = tingkat pengembalian portofolio selama
periode berjalan
Rg = tingkat pengembalian aktiva g selama periode
berjalan
Wg = bobot aaktiva g pada
portofolio (yaitu aktiva g sebagai bagian dari nilai
pasar keseluruhan
portofolio)
G = jumlah aktiva pada
portofolio
Persamaan (2) menunjukkan
bahwa pengembalian atas portofolio dari aktiva G (Rp) sama dengan jumlah berat
aktiva individual dalam portofolio dikalikan pengembaliannya bagi setiap aktiva
g. Pengembalian portofolio Rp seringkali
disebut (pengembalian selama periode penyimpanan (ex post return). Sebagai contoh, berikut ini adalah portofolio yang terdiri dari tiga aktiva:

Nilai total pasar portofolio adalah $25 juta, maka:
disebut (pengembalian selama periode penyimpanan (ex post return). Sebagai contoh, berikut ini adalah portofolio yang terdiri dari tiga aktiva:

Nilai total pasar portofolio adalah $25 juta, maka:
R1 = 12% dan w1 = $6 juta/$25 juta = 0,24
atau 24%
R2 = 10% dan w2 = $8 juta/$25 juta = 0,32 atau 32%
R3 = 5% dan w3 = $11 juta/$25 juta = 0,44 atau 44%
R2 = 10% dan w2 = $8 juta/$25 juta = 0,32 atau 32%
R3 = 5% dan w3 = $11 juta/$25 juta = 0,44 atau 44%
Perhatikan bahwa jumlah dari bobot aktiva
sama dengan 1.Apabila dimasukkan pada Persamaan (1) diperoleh:
Rp = 0,24 (12%) + 0,32 (10%) + 0,44 (5%) =
8,28%
Pengembalian Diharapkan
dari Portofolio Aktiva Berisiko
Persamaan (1) menunjukkan cara perhitungan pengembalian actual dan portofolio selama periode waktu tertentu. Dalam pengelolaan portofolio, investor juga ingin mengetahui pengembalian yang diharapkan dari portofolio aktiva berisiko. Pengembalian yang diharapkan dari portofolio adalah rata-rata tertimbang dari pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva pada portofolio. Nilai yang diberikan kepada pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva merupakan persentase dari nilai pasar aktiva terhadap nilai pasar total portofolio, yaitu:
…..3
Persamaan (1) menunjukkan cara perhitungan pengembalian actual dan portofolio selama periode waktu tertentu. Dalam pengelolaan portofolio, investor juga ingin mengetahui pengembalian yang diharapkan dari portofolio aktiva berisiko. Pengembalian yang diharapkan dari portofolio adalah rata-rata tertimbang dari pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva pada portofolio. Nilai yang diberikan kepada pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva merupakan persentase dari nilai pasar aktiva terhadap nilai pasar total portofolio, yaitu:
E(….) menunjukkan harapan,
dan E(Rp) terkadang disebut pengembalian exante atau pengembalian diharapkan
dari portofolio sepanjang periode waktu tertentu.
Pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dihitung sebagai berikut:
Harus diketahui distribusi probabilitas bagi tingkat pengembalian yang mungkin dapat yang dihasilkan. Distribusi probabilita merupakan fungsi yang menghubungkan peluang terjadinya suatu peristiwa dengan penghasilan yang mungkin dihasilkan bagi variabel acak.
Pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dihitung sebagai berikut:
Harus diketahui distribusi probabilitas bagi tingkat pengembalian yang mungkin dapat yang dihasilkan. Distribusi probabilita merupakan fungsi yang menghubungkan peluang terjadinya suatu peristiwa dengan penghasilan yang mungkin dihasilkan bagi variabel acak.
Setelah distribusi
probabilita diketahui, kemudian dicari nilai yang diharapkan dari variabel acak
yang merupakan rata-rata tertimbang penghasilan yang mungkin, dimana
bobot/timbangan merupakan probabilita yang berhubungan dengan penghasilan yang
mungkin.Nilai diharapkan dari pengembalian aktiva, seterusnya digunakan istilah
pengembalian diharapkan. Secara matematis, pengembalian yang diharapkan
dinyatakan sebagai berikut:
Dimana:
rn = tingkat pengembalian ke-n yang mungkin bagi aktiva i.
pn = probabilita memperoleh tingkat pengembalian n bagi aktiva i.
h penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian.
Diasumsikan seseorang ingin melakukan investasi, saham XYZ, yang memiliki distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian selama periode waktu tertentu, ditunjukkan Tabel 3-1. Dalam praktiknya, distribusi probabilita didasarkan pada pengembalian historis.
Tabel 1. Distribusi
probabilita Tingkat Pengembalian Bagi Saham XYZ

Dimasukkan ke dalam Persamaan (4) akan diperoleh:

Dimasukkan ke dalam Persamaan (4) akan diperoleh:
E(RXYZ) = 0,50 (15%) + 0,30
(10% + 0,13 (5%) + 0,05 (0%) + 0,02 (-5%) = 11%
Maka, 11% merupakan nilai atau rata-rata hitung (mean) yang diharapkan dari distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian saham XYZ.
Maka, 11% merupakan nilai atau rata-rata hitung (mean) yang diharapkan dari distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian saham XYZ.
2.7. Mengukur
Risiko Portofolio
Risiko merupakan kerugian
yang dihadapi. Sehubungan dengan investasi,para investor menggunakan berbagai
definisi untuk menjelaskan makna risiko.
Profesor Harry Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif. Markowitz mendifinisikan risiko sebagai ukuran statistika yang disebut variance. Secara khusus, Markowitz mengkuantifisir sebagai varians pengembalian diharapkan aktiva.
Profesor Harry Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif. Markowitz mendifinisikan risiko sebagai ukuran statistika yang disebut variance. Secara khusus, Markowitz mengkuantifisir sebagai varians pengembalian diharapkan aktiva.
2.8.Varians sebagai Alat Ukur Risiko
Varians dari variable acak
adalah ukuran penyimpangan dari penghasilan yang mungkin di sekitar nilai yang
diharapkan. Dalam hal pengembalian aktiva, varians adalah ukuran penyimpangan
penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian di sekitar pengembalian yang
diharapkan.Persamaan bagi varians pengembalian yang diharapkan bagi aktiva i,
yang dinyatakan sebagai (Ri), adalah:
Dengan menggunakan
distribusi probabilita pengembalian bagi saham XYZ, perhitungan varians adalah
sebagai berikut:
Var(RXYZ)
= 0,50 (15%-11%)2 + 0,30 (10%-11%)2 +
0,13 (5%-11%)2 + 0,05 (0%- 11%)2 +
0,02 (-5%-11%)2 = 24 %
Varians yang dikaitkan
dengan distribusi pengembalian mengukur varians dimana distribusi dikelompokkan
di sekitar mean atau pengembalian yang diharapkan. Markowitz berpendapat
varians ini sama dengan ketidakpastian atau risiko suatu investasi. Jika aktiva
tidak memiliki risiko, maka penyimpangan pengembalian diharapkan dari aktiva
tersebut adalah nol (0).
Deviasi
Standar. Karena varians dinyatakan dalam unit kuadrat, maka
sering dilihat varians diubah menjadi deviasi standar atau akar kuadrat dari
varians;
2.9.Diversifikasi
Portofolio
Untuk menurunkan risiko
portofolio perlu melakukan diversifikasi. Diversifikasi portofolio diartikan
sebagai pembentuka portofolio sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi risiko
portofolio tanpa pengorbanan pengembalian yang dihasilkan. Ini merupakan tujuan
yang ingin dicapai oleh investor. Beberapa investor melakukan diversifikasi
portofolio dengan jalan memasukkan berbagai aktiva dari seluruh kelompok aktiva
yang ada, seperti saham, obligasi, dan real estat.
Para investor yang menghususkan diri dalam satu kelompok aktiva misanya saham, juga menganggap perlu dilakukan diversifikasi portofolio. Yang dimaksud dengan diversifikasi portofolio dalam hal ini adalah seluruh dana yang ada seharusnya tidak diinvestasikan ke dalam bentuk saham satu perusahaan saja, tapi portofolio harus terdiri dari saham banyak perusahaan.
Para investor yang menghususkan diri dalam satu kelompok aktiva misanya saham, juga menganggap perlu dilakukan diversifikasi portofolio. Yang dimaksud dengan diversifikasi portofolio dalam hal ini adalah seluruh dana yang ada seharusnya tidak diinvestasikan ke dalam bentuk saham satu perusahaan saja, tapi portofolio harus terdiri dari saham banyak perusahaan.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Portofolio merupakan sekumpulan investasi dengan tingkat
keuntungan dan risiko yang berbeda-beda yang digabungkan untuk memenuhi tujuan investasi
serta mengurangi risiko. Tujuan melakukan portofolio adalah untuk mengurangi
risiko bagi pihak yang memegang portofolio. Pengurangan risiko itu dilakukan
dengan diversifikasi risiko. Proses portofolio mempunyai empat tahap yaitu
tahap tujuan investasi, tahap ekspektasi pasar, tahap membangun portofolio, dan
tahap evaluasi kinerja.
Investasi adalah pengorbanan sejumlah nilai tertentu saat
ini untuk memperoleh nilai (pengembalian) mendatang yang tentunya dengan
harapan lebih besar dari nilai saat ini. Investasi memiliki tiga tujuan, yaitu:
1) untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa yang akan datang, 2)
mengurangi tekanan inflasi, 3) dorongan untuk menghemat pajak. Proses manajemen
investasi meliputi lima langkah sebagai berikut: Menetapkan sasaran investasi,
Membuat kebijakan investasi, Memilih strategi portofolio, Memilih aktiva/asset,
Mengukur dan mengevaluasi kinerja.
Portofolio investasi adalah kumpulan dari beberapa jenis
instrumen investasi yang dirancang dengan komposisi tertentu untuk mencapai
target imbal hasil yang diharapkan. Dengan memiliki beberapa instrumen
investasi dalam satu portofolio, kita juga sekaligus menerapkan prinsip
diversifikasi yang merupakan salah satu cara mengelola risiko.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar